Thursday, April 2, 2009

Apakah Hipnosis/Hipnoterapi Berbahaya?

Oleh : Adi W. Gunawan

“With great power comes great responsibility”

Sebelum menjelaskan lebih lanjut saya ingin kita menyamakan dulu persepsi kita mengenai hipnosis, agar kita bisa berpikir dan berdiskusi dengan koridor pikir yang sama.

Selama ini telah terjadi kerancuan makna atau salah pemahaman mengenai hipnosis. Hipnosis telah dipersepsikan secara keliru sebagai klenik atau magic. Lalu apa sih sebenarnya hipnosis? Seperti yang saya jelaskan di buku saya Hypnosis: The Art of Subconscious Communication, hipnosis sebenarnya tidak lebih dari seni berkomunikasi. Lebih lengkap lagi hipnosis adalah seni berkomunikasi dengan penekanan pada aspek dan proses komunikasi timbal balik antara satu atau lebih orang yang terjadi pada level pikiran bawah sadar.

Dari definisi di atas tampak jelas bahwa hipnosis sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu sesat, magic, atau kekuatan supra natural. Dengan mengacu pada definisi hipnosis yang telah kita sepakati di atas, mari kita mulai diskusi kita.

Kerancuan makna juga sering tampak dari berbagai tulisan di media massa atau internet. Saya sempat membaca iklan di surat kabar atau cerita di milis, kebetulan saat itu lagi membahas topik mengenai hipnosis/hipnoterapi, yang mencampuradukkan antara hipnosis dan hipnotis.

Hipnosis adalah ilmu atau seni komunikasi sedangkan hipnotis adalah orang yang menggunakan atau mempraktikkan hipnosis. Lalu apa beda antara hipnosis dan hipnoterapi?

Semua hipnoterapi menggunakan hipnosis. Namun, hipnosis baru bisa dikatakan sebagai hipnoterapi apabila menggunakan teknik-teknik tertentu, yang bersifat terapeutik, untuk membantu klien meningkatkan diri mereka, sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Hipnoterapis, dengan demikian, adalah orang yang menggunakan atau mempraktikkan hipnoterapi. Hipnoterapis pasti adalah seorang hipnotis. Namun hipnotis belum tentu hipnoterapis.

Kembali pada pertanyaan di atas, “Apakah hipnosis/hipnoterapi berbahaya?”.

Hipnosis adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk bisa menjangkau pikiran bawah sadar dengan cepat dan mudah. Perubahan perilaku selama ini cukup sulit dilakukan karena orang, pada umumnya, tidak mengerti cara masuk ke pikiran bawah sadar yang menyimpan berbagai “program” yang mengendalikan diri kita.

Ada lima cara untuk masuk ke pikiran bawah sadar:

  1. Repetisi
  2. Identifikasi kelompok atau keluarga
  3. Informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang mempunyai otoritas
  4. Emosi yang intens
  5. Kondisi alfa atau hipnosis

Dengan menggunakan bantuan hipnosis seorang hipnotis atau hipnoterapis dapat dengan mudah masuk ke pikiran bawah sadar klien dan melakukan otak-atik “program”. Akibatnya bisa macam-macam. Bisa positif maupun negatif. Modifikasi atau rekonstruksi “program” pikiran ini selanjutnya akan mempengaruhi perilaku seseorang dan sebagai hasil akhir sudah tentu hidup orang juga akan berubah.

Contohnya begini. Anda bertemu dengan seseorang, sebut saja Budi, yang tidak bisa menjual dengan baik. Padahal Budi bekerja di bidang marketing dan sales. Kesulitan Budi disebabkan oleh belief-nya yang menyatakan bahwa ia tidak cakap dalam hal penjualan.

Dengan pengetahuan dan kemampuan yang anda miliki, anda bisa masuk ke pikiran bawah sadar Budi dan memodifikasi ”program” (belief) yang menghambat Budi. Setelah ”program”nya dimodifikasi Budi akhirnya mampu menjadi seorang salesman handal. Nah, dalam hal ini hipnosis/hipnoterapi mengakibatkan suatu efek yang sangat positif.

Untuk lebih jelas mengenai teknik terapi yang digunakan dalam hipnoterapi anda bisa membaca buku saya Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring.

Contoh yang negatif seperti ini. Misalnya anda, sebagai orangtua dan figur yang dipandang memiliki otoritas, saat mengetahui bahwa anak anda nilai ujiannya jauh di bawah harapan anda, berkata, “Dasar anak goblok. Kamu selalu dapat nilai jelek. Dari dulu sampe sekarang nilaimu nggak pernah bagus. Heran ya... kok ada anak goblok seperti kamu?”

Apa yang anda lakukan pada anak anda adalah satu bentuk hipnosis yang sangat dahsyat. Hipnosis yang anda lakukan mampu menembus langsung ke pikiran bawah sadar anak, melalui gerbang pikiran bawah sadar yang saat itu terbuka lebar akibat perasaan takut mendapat nilai jelek, dan akan sangat efektif. Mengapa efektif? Karena kalimat yang anda “pilih” sungguh merupakan afirmasi yang sangat ampuh. Coba anda perhatikan kembali kalimat di atas, khususnya kata-kata yang saya garisbawahi.

Saya beri contoh lain yang positif. Bagaimana caranya membuat anak, misalnya usia 1,5 – 4 tahun, yang sulit makan menjadi suka makan? Bagaimana caranya membuat anak yang sampai usia 7 atau 8 tahun masih juga “ngompol” (bahasa teknisnya, enuresis) saat tidur malam hari menjadi tidak “ngompolan”?

Dengan pemahaman akan cara kerja pikiran kita dapat dengan mudah memasukkan sugesti positif untuk membantu anak mengubah perilakunya. Caranya bagaimana? Kita harus tahu kapan gerbang bawah sadar terbuka secara alamiah dan pada saat itu kita harus segera memasukkan afirmasi positif, tentunya dengan pilihan kata yang cermat.

Saya mengajarkan teknik ini pada setiap orangtua yang hadir di seminar saya di berbagai kota. Hasilnya? Cespleng. Saya sendiri sampai saat ini, meskipun saya mengerti betul cara kerja teknik ini, sering kagum dan takjub melibat betapa cepatnya perubahan bisa terjadi.

Sebaliknya bila kita tidak berhati-hati saat berbicara dengan anak kita, terutama dengan kata-kata yang kita gunakan, maka secara sengaja maupun tidak, kita telah melakukan hipnosis yang efeknya akan sangat negatif.

Riset yang dilakukan para pakar di bidang pikiran dan otak, di luar negeri., mendapatkan satu hasil yang perlu kita cermati dengan hati-hati sekali. Riset itu menyatakan bahwa anak saat berusia 0 – 3 tahun hanya beroperasi dengan menggunakan pikiran bawah sadar. Dengan demikian apapun yang dialami oleh seorang anak pada 3 tahun pertama hidupnya akan diserap semuanya oleh pikiran bawah sadarnya. Jika mau lebih tepat, sebenarnya pikiran bawah sadar sudah aktif sejak anak masih dalam kandungan.

Filter mental (pikiran sadar) baru mulai terbentuk saat anak berusia 3 tahun. Filter ini akan semakin menebal pada usia 8 tahun dan akan sangat tebal pada usia 13 tahun. Walaupun pikiran sadar ini semakin kuat kerjanya pada usia 13 tahun, dari penelitian yang lain didapatkan satu penemuan menarik, yaitu anak mulai usia 0 – 13 tahun masih sangat banyak yang beroperasi pada gelombang otak theta ( 4 – 8 Hz). Ini adalah gelombang pikiran bawah sadar.

Penasaran dengan penemuan ini saya mengukur gelombang otak anak kami yang bungsu, usia 5,5 tahun, dengan piranti Brain Wave 1 yang saya miliki dan menemukan satu hal yang sangat mengejutkan saya. Hasil pengukuran menunjukkan anak kami, saat dalam kondisi sadar, ternyata beroperasi dengan sama sekali tidak ada gelombang beta, sangat sedikit gelombang otak ”very low” alpha, dan sangat banyak theta dan delta.

Bisa anda bayangkan betapa berbahayanya bila kami, dan juga anda tentunya sebagai orangtua, salah bicara dan bersikap pada anak. Apapun yang kita katakan akan langsung tertanam di pikiran bawah sadar anda. Selanjutnya akan menjadi program pikiran yang menentukan perilakunya.

Berikut saya akan berikan contoh efek positif dan negatif hipnoterapi.

Di buku Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring saya memberikan empat contoh, dari sekian banyak kasus, yang pernah saya tangani dengan hasil yang sangat baik. Ada klien yang telah mengalami trauma selama 41 tahun dan bisa disembuhkan hanya dalam waktu 30 menit terapi. Ada juga yang phobia tensoplast, selama lebih dari 20 tahun, sembuh total juga hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Ada juga yang phobia matematika dan juga ada yang gagap berhasil disembuhkan dengan hipnoterapi.

Ada klien yang hanya membutuhkan satu sesi terapi. Ada yang membutuhkan beberapa sesi. Bergantung situasi dan kondisi klien.

Nah, apa bahayanya hipnoterapi?

Hipnoterapi akan sangat berbahaya bila teknik terapi yang digunakan salah. Ini ada satu kasus nyata. Seorang klien yang ingin berhenti merokok mendatangi seorang hipnoterapis. Oleh si hipnoterapis, si klien diinduksi, masuk ke kondisi trance, lalu disugesti dengan kalimat berikut:

”Mulai sekarang setiap kali anda merokok anda akan merasa muak dan jijik dengan rokok. Setiap kali anda mencium bau rokok anda merasa muak, mual, dan jijik. Mulai saat ini dan seterusnya anda benci dan tidak suka merokok. Bila anda merokok, anda akan merasakan seluruh tubuh anda sakit sekali, kepala anda pusing, dan langsung terbayang paru-paru anda kena kanker yang sangat ganas dan mengerikan. Anda tentunya tidak mau kena kanker ganas dan mengerikan, bukan? Untuk itu anda harus berhenti merokok mulai sekarang dan seterusnya”

Untuk orang awam, apa yang dilakukan si hipnoterapis ini kesannya sudah benar. Tahukah anda bahwa teknik terapi seperti di atas, kalau di Amerika, masuk kategori malpraktik? Si hipnoterapis bisa dituntut dan masuk penjara.

Apa yang salah dengan teknik di atas? Lha, kalau si klien tetap merokok, apa yang akan terjadi? Program yang menyatakan ”Bila anda merokok, anda akan merasakan seluruh tubuh anda sakit sekali, kepala anda pusing, dan langsung terbayang paru-paru anda kena kanker yang sangat ganas dan mengerikan” akan langsung bekerja. Bisa jadi si klien akan benar-benar kena kanker paru-paru.

Anda lihat sekarang betapa bahayanya bila caranya salah? Saat dalam kondisi trance pikiran sadar klien ”off” sehingga sugesti yang diberikan akan langsung tertanam di pikiran bawah sadar klien.

Apakah mungkin hipnoterapis bisa ”mengarahkan” klien untuk melakukan hal-hal yang merugikan diri klien? Jawabnya bisa namun tidak mudah.

Saat seorang klien dalam kondisi deep trance, tiga buah filter pada pikiran sadar tidak bisa bekerja/off. Ketiga filter ini, yang dikenal dengan nama three antisuggestive barriers, berfungsi untuk menyaring berbagai informasi yang diterima pikiran sadar.

Saat dalam kondisi deep trance yang masih aktif adalah dua buah filter yang terletak di pikiran bawah sadar. Filter pertama memeriksa apakah informasi yang masuk, bila dilaksanakan, akan membahayakan diri klien atau tidak. Filter kedua memeriksa apakah informasi ini, bila dilaksanakan, akan bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dipegang oleh klien. Bila berhasil lolos dari dua filter ini maka informasi/sugesti (baca: perintah) ini akan dilaksanakan dengan patuh.

Jadi, seorang klien akan melakukan perintah yang disugestikan oleh hipnoterapis bergantung pada dua hal. Pertama, kecakapan hipnoterapis dalam meyakinkan pikiran bawah sadar klien bahwa si klien harus melakukan yang diminta oleh si hipnoterapis. Kedua, apabila ternyata nilai-nilai yang dipegang oleh klien mengijinkan untuk melakukan perintah yang diminta oleh hipnoterapis.

Bingung? Saya beri contoh konkrit.

Misalnya seorang klien, sebut saja Anto, sangat sayang pada orangtuanya. Saat dihipnosis, masuk dalam kondisi deep trance, ia diminta untuk membunuh orangtuanya. Apakah sugesti/perintah ini akan ia laksanakan? Tidak!

Mengapa? Karena perintah ini bertentangan dengan nilai dasar yang Anto pegang. Anda jelas sekarang?

Misalnya Anto, yang ternyata sangat kuat ibadahnya, diminta menginjak kitab suci agamanya. Apakah akan ia lakukan? Tidak! Menurut nilai dasar yang Anto pegang, menginjak kitab suci akan masuk neraka dan akan dibakar tujuh kali. Tentu saja Anton tidak mau masuk neraka.

Lain halnya bila Anto memang sangat membenci kedua orangtuanya. Atau misalnya ia adalah seorang atheis. Kalau begini kondisinya maka perintah untuk membunuh orangtuanya atau menginjak kitab suci akan dilakukan dengan patuh.

Pembaca, sugesti apapun tidak akan dilakukan bila tidak mendapat persetujuan dari pikiran bawah sadar klien.

Saya yakin, sekarang di benak anda ada pertanyaan berikut, ”Bagaimana caranya untuk bisa meyakinkan dan mendapat persetujuan dari pikiran bawah sadar klien sehingga mau melakukan yang kita minta?”. Saya tidak akan memberikan jawaban untuk pertanyaan ini.

Menjawab pertanyaan apakah hipnosis/hipnoterapi berbahaya atau tidak? Jawabnya tidak. Hipnosis/hipnoterapi bersifat netral. Tidak baik atau buruk. Baik atau buruk bergantung pada siapa yang menggunakan dan untuk apa. Jadi ini semua kembali kepada diri kita masing-masing.

Sama seperti sebuah pisau. Pisau bisa digunakan untuk memasak. Pisau yang sama, setelah digunakan untuk memasak, bisa digunakan untuk membunuh orang.

Jadi, sebenarnya yang berbahaya apakah hipnosis/hipnoterapi ataukah hipnotis/hipnoterapis?

Setiap kali mendapat pertanyaan seperti di atas saya selalu teringat dengan apa yang dikatakan oleh paman Spiderman, ”With great power comes great responsibility”.

The Law of Attraction (3)

Oleh : Adi W. Gunawan

Giving thought, on the one hand, and expecting or believing, on the other hand, is the balance that brings to you that which you receive

Pada artikel pertama mengenai LOA saya telah menyinggung sekilas mengenai prinsip sukses yang saya tulis di buku Becoming a Money Magnet (BMM) dan yang menjadi intisari dari materi yang diajarkan di Supercamp (SC) Becoming a Money Magnet. Pada kesempatan ini saya akan menguraikan sedikit lebih mendalam mengenai prinsip sukses BMM, mengapa kami menyusunnya sedemikian rupa, dan hubungannya dengan LOA.

Rumus sukses yang kami ajarkan adalah 1) Tahu apa yang diinginkan/dream, 2) Yakin, 3) Syukur, 4) Pasrah, dan 5) Doa.

Langkah pertama “Tahu apa yang diinginkan”, atau mudahnya kita sebut saja dream, merupakan kunci untuk bisa merealisasikan hal-hal yang ingin dicapai dalam hidup. Bagaimana kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan kalau kita tidak jelas apa yang kita inginkan? Kejelasan (clarity) merupakan kunci dan tidak bisa ditawar. Dream merupakan buah pikir (thought) yang akan tampil di layar mental dan selanjutnya di-broadcast. Apakah hanya dream saja cukup? Tentu tidak. Dream yang kami maksudkan adalah dream yang mempunyai muatan emosi positif yang tinggi. Semakin tinggi akan semakin kuat efeknya.

Mengapa perlu dream? Alasan lainnya adalah dream merupakan wants bukan needs. Jika kita ditanya apa impian kita maka kita pasti akan menjawab sesuatu yang sangat kita inginkan di masa depan. Jika kita sudah punya mobil Kijang Inova maka dream kita bisa jadi Toyota Fortuner. Pasti sesuatu yang lebih tinggi. Nah, dengan pemahaman ini maka sudah jelas dream sangat penting.

Langkah kedua adalah yakin. Nah, ini yang susah. Yakin atau belief adalah urusan pikiran bawah sadar. Tidak mudah untuk bisa mengubah belief atau keyakinan kita. Itulah sebabnya mengapa banyak orang tahu apa yang mereka inginkan namun sangat sulit untuk mendapatkan impian mereka. Syarat pertama sudah terpenuhi. Mereka tahu apa yang mereka inginkan. Namun mereka tidak yakin. Terjadi konflik antara pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran sadar mau tapi pikiran sadar nggak yakin. Dan yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar.

Saya mendapat banyak sekali respon positif dari para alumnus SC yang mengatakan bahwa, ”Miracle happens in my life” , ”Mengapa sekarang sukses kok sangat mudah dicapai?”, ”Saya bingung melihat perkembangan bisnis saya yang sedemikian pesat?”, ”Dulu saya susah payah mencari order, sekarang saya kepayahan dikejar-kejar order”. Dan masih banyak lagi komentar positif senada yang dikirim baik via sms maupun email ke saya.

Di SC di Trawas baru-baru ini kami melihat begitu banyak peserta yang mengalami transformasi diri. Kami menangis tangis bahagia bersama-sama. Sungguh satu kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat melihat para naga bangun dari mimpi yang selama ini membuat mereka bertindak hanya seperti layaknya cacing atau ular.

Apa yang kami lakukan di SC sebenarnya sederhana. Kami membantu para peserta untuk bisa keluar dari penjara mental yang telah sekian tahun membatasi mereka. Hanya itu. Setelah terbebas dari penjara mental (limiting belief) maka mereka bisa yakin. Dengan demikian dua langkah pertama telah berhasil dicapai.

Sebenarnya hanya dengan dua langkah ini saja, dream dan yakin, kita sudah bisa berhasil. Dua langkah ini sudah memenuhi syarat untuk bisa membuat LOA bekerja keras untuk kita.

Sebelum melanjutkan saya ingin membahas sedikit lebih dalam mengenai dream dan yakin/belief.

Dalam kondisi normal perkembangan diri kita bersifat gradual, perlahan-lahan, step by step. Demikian juga dengan belief. Itulah sebabnya goal setting ... eh.. salah... outcome setting harus dilakukan dengan hati-hati. Idealnya kita menset outcome paling tinggi 20% lebih tinggi dari pencapaian sebelumnya. Mengapa demikian? Karena ini adalah lompatan yang masih dianggap wajar/masuk akal oleh pikiran kita. Dengan demikian tidak akan ditolak.

Dalam kondisi normal, bila kita ingin mencapai hasil yang spektakuler, jauh di atas pencapaian yang selama ini kita capai, suatu quantum leap, maka yang perlu diotak-atik bukan belief kita. Mengapa? Karena dalam kondisi normal belief kita tidak bisa berubah drastis.

Nah, karena belief tidak bisa berubah drastis maka yang direkayasa adalah ”keinginan” kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Bingung? Ini saya beri satu contoh.

Anda mungkin pernah mendengar cerita mengenai seorang wanita yang mampu mengangkat mobil demi membebaskan anaknya yang terjepit di bawah mobil itu? Secara logika atau belief wanita ini tidak mungkin ia mampu mengangkat mobil yang berat. Namun ia sangat ingin menyelamatkan nyawa anaknya. Satu-satunya cara adalah dengan mengangkat mobil dan membebaskan si anak dari himpitan mobil. Hasilnya? Ia sukses mengangkat mobil itu. Jika ia diminta mengulangi lagi, apakah bisa? Tidak bisa.

Dengan kata lain, bila ”keinginan” benar-benar kuat maka pengaruh belief dapat di-by-pass sehingga kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.

Di SC kita mengajarkan peserta untuk berani menetapkan outcome 2 X lipat (200%) dari pencapaian sebelumnya. Edukasi ini dilakukan langsung ke pikiran bawah sadar.

Mengapa kami melakukan hal ini? Jawabannya sederhana. Untuk bisa mencapai hasil yang spekatuler atau quantum leap maka kita harus melepas belief lama dan mengadopsi belief baru yang mendukung pencapaian tujuan. Hanya ini caranya. Tidak ada cara lain. Ini hanya bisa dilakukan dengan melakukan rekonstruksi atau restrukturisasi berbagai program pikiran yang ada di pikiran bawah sadar.

Nah, setelah langkah pertama, dream, dan langkah kedua, yakin/belief, saya jelaskan maka kini saya akan menjelaskan langkah ketiga yaitu syukur.

Pertanyaannya, ”Mengapa syukur? Mengapa bukan yang lain?”

Syukur mempuyai makna: 1) rasa terima kasih kepada Tuhan, dan 2) pernyataan lega, senang, dan sebagainya.

Setelah melewati langkah pertama dan kedua sebenarnya kemampuan peserta SC untuk menarik hal-hal yang mereka inginkan sudah sangat kuat. Kemampuan ini semakin diperkuat dengan level energi yang sangat tinggi dari perasaan syukur. Jika kita punya dream dan kita yakin bahwa kita pasti akan mendapatkan apa yang kita inginkan, atas ijin Tuhan, maka yang perlu kita lakukan tinggal bersyukur dan bersyukur. Bersyukur berarti kita senantiasa berterima kasih atas kemurahan Tuhan. Bersyukur berarti kita merasa lega, senang, gembira, bahagia, dan damai karena kita tahu bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Level energinya sangat tinggi, bisa mencapai 600. Bagi pembaca yang bingung mengenai level energi, anda bisa membaca artikel saya yang terdahulu yang berjudul ”Energi Psikis Sebagai Akselerator Keberhasilan”.

Setelah bersyukur maka selanjutnya kita pasrah. Kapan kita mendapatkan apa yang kita inginkan ini sepenuhnya bergantung pada Yang Kuasa, melalui kerja LOA. Dengan pasrah, kita justru semakin memperkuat kerja LOA.

Langkah terakhir adalah doa. Mengapa saya tidak menempatkan doa sebagai langkah awal? Karena sudah terlalu banyak orang yang berdoa namun tidak mendapatkan jawaban untuk doa mereka. Mungkin anda juga pernah mengalaminya. Mengapa bisa begitu? Karena kebanyakan orang tidak tahu apa yang mereka inginkan (dream). Kalaupun mereka tahu, mereka tidak yakin bisa mendapatkan dream mereka. Akibatnya mereka tidak bisa bersyukur karena tidak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan selanjutnya mereka juga nggak pasrah. Banyak orang yang mengaku pasrah namun sebenarnya tidak. Hal ini tercermin dari sikap mereka yang cenderung negatif dan suka mengeluh.

Dengan menempatkan doa pada bagian akhir justru saya ingin mengatakan bahwa doa inilah yang paling penting. Mengapa? Karena definisi doa yang saya tawarkan berbeda. Ini menurut saya pribadi lho. Anda boleh setuju boleh juga tidak. Doa kita kepada Sang Hidup sebenarnya berupa pola pikir, ucapan, tindakan, sikap, perilaku, harapan, dan hidup keseharian kita.

Setelah membaca sejauh ini pasti anda bingung dan bertanya, “Lho, Pak Adi kok sama sekali tidak bicara mengenai action atau kerja?”.

He..he... sudah tentu kita perlu kerja. Namun jika telah menggunakan bantuan LOA untuk mencapai keberhasilan hidup maka kerjanya kita bisa sangat minim. Nggak usahlah melakukan massive action. Capek ah.. kalau terus-terusan massive action. Cukup action-action seperlunya saja lah. Inilah yang saya jelaskan panjang lebar di buku BMM. Anda akan mengalami berbagai kebetulan yang tidak kebetulan yang kebetulan mempermudah pencapaian tujuan anda dengan cara yang sangat kebetulan.

Lha, kalau bisa dibuat mudah mengapa harus dipersulit? Gitu aja kok repot?

Oh ya... mengakhiri seri tulisan ini, The Law of Attraction, saya sangat menyarankan anda untuk bisa segera membeli dan membaca buku The Secret yang ditulis oleh Rhonda Byrne. Buku ini sudah diterbitkan oleh Gramedia. Selain itu anda juga perlu menonton video The Secret yang merupakan satu video sangat dahsyat yang akan membuka wawasan berpikir anda mengenai LOA.

The Law of Attraction (2)

Oleh : Adi W. Gunawan

Your thoughts and your feelings create your life.
It will always be that way. Guaranteed!

~Lisa Nichols

Pada akhir artikel sebelumnya saya mengatakan bahwa kunci untuk memanfaatkan LOA demi kemajuan kita adalah dengan kesadaran diri. Kita harus selalu sadar untuk senantiasa mengarahkan pikiran kita untuk memikirkan hal-hal yang kita inginkan.

Apakah ini mudah? Oh, sudah tentu tidak mudah. Deepak Chopra pernah berkata bahwa dalam satu hari kita melakukan self-talk sebanyak 55.000 – 65.000 kali. Nah, self-talk ini termasuk bentuk pikiran. Pertanyaannya sekarang, ”Bagaimana caranya kita bisa menggunakan kesadaran untuk mengendalikan buah pikir sebanyak ini?” Jawabannya, ”Tidak mungkin bisa”.

Jawaban ini berlaku bagi orang awam. Ada segelintir orang yang mampu mengendalikan pikiran mereka sepenuhnya. Namun untuk bisa mencapai kemampuan ini dibutuhkan latihan dengan disiplin diri yang tinggi selama bertahun-tahun.

Sekarang kita hidup di jaman serba instan. Saya yakin tidak ada satupun di antara kita yang mau melakukan latihan mental semacam itu. Apakah ada cara yang lebih mudah dan nggak usah kerja keras? Ada. Mau tahu? Gunakan perasaan atau emosi sebagai Guiding System.

Beberapa waktu lalu saya sempat menulis artikel dengan judul ”Emosi: Kunci Rahasia Kebijaksanaan”. Saya sangat menyarankan anda untuk membaca artikel ini agar bisa lebih memahami apa yang saya uraikan di artikel ini.

Kembali ke laptop... eh salah... ke perasaan. Karena kita tidak mungkin mengawasi satu per satu pikiran yang muncul maka cara paling mudah adalah dengan selalu mengawasi perasaan kita. Bagaimana caranya? Mudah saja. Jika kita merasa senang, bahagia, gembira, atau gampangnya merasa ”enak” maka ini artinya baik. Jika perasaan yang kita rasakan bersifat negatif (tidak ”enak”) maka ini sebenarnya merupakan warning signal dari Guiding System kita bahwa ada bagian, di pikiran bawah sadar, yang kerjanya tidak in-line.

Saat emosi kita muncul terhadap sesuatu objek, objek apapun termasuk objek pikiran, maka pada saat itu kita mengaktifkan dan memberikan ”perintah” pada LOA untuk mulai bekerja dan menarik hal-hal yang membuat munculnya perasaan kita.

Contohnya begini. Ada seorang wanita yang baru putus cinta. Hatinya sakit bak disayat sembilu. Emosinya bergejolak. Saat itu ia memutuskan bahwa ia ingin mendapat pasangan yang jauh lebih baik daripada mantan kekasihnya yang brengsek, kurang ajar, nggak tahu diri, dan egois. Selang beberapa bulan apa yang terjadi?

Benar. Wanita ini mendapatkan pasangan yang kurang lebih sama dengan mantan kekasihnya. Lha, kok bisa begitu? Bukankah ia ingin mendapatkan pasangan yang lebih baik? Bukankah ia ingin bahagia?

Sekali lagi, anda benar. Namun wanita ini secara tidak sadar telah mengaktifkan LOA untuk menarik pria yang justru tidak ia inginkan. Mengapa bisa terjadi? Saat ia memutuskan bahwa ia ingin mendapatkan pasangan yang ”tidak seperti” mantan kekasihnya maka yang muncul di layar mentalnya justru gambar mantan kekasihnya. Begitu gambarnya muncul maka semua emosi yang berhubungan dengan pengalaman negatifnya juga ikut muncul. Akibatnya? LOA bekerja mewujudkan apa yang menjadi fokus perhatian dengan muatan emosi terkuat.

Beberapa waktu lalu saya mendapat telpon dari seorang pembaca buku Becoming a Money Magnet (BMM). Ibu ini, sebut saja Yuni, tinggal di Surabaya dan kebetulan seorang dokter. Ibu Yuni bercerita mengenai anaknya yang berusia 2 tahun yang sangat susah makan. Sudah sangat banyak cara ia coba agar bisa membuat anaknya mau makan. Namun selalu gagal.

Nah, setelah Ibu Yuni membaca buku BMM ia mencoba melakukan pendekatan yang berbeda. Selama ini yang ada dipikiran Ibu Yuni adalah, ”Anak saya susah makan”. Dan sesuai dengan prinsip kerja LOA itulah yang ia dapatkan.

Perubahan terjadi saat Ibu Yuni, di pagi hari, mengubah pola pikirnya. Pagi ini Ibu Yuni mulai berpikir bahwa, “Anak saya suka makan dan pintar makan”. Dengan mindset seperti ini Ibu Yuni mulai menyiapkan sarapan pagi putranya. Hasilnya? Ibu Yuni bingung dan bengong. Anaknya, padahal nggak di-apa-apain, pagi itu langsung makan sarapannya dengan lahap.

Satu contoh lagi. Mengapa orang kaya makin kaya dan orang miskin makin miskin? Orang miskin, pada umumnya, hanya memikirkan needs (kebutuhan). Orang kaya memikirkan wants (keinginan). Ada perbedaan yang signifikan antara needs dan wants.

Needs mencerminkan kondisi kita saat ini, what-it-is. Sedangkan wants mewakili kondisi what-it-shall-be. Karena dasar pikirannya berbeda maka bisa anda bayangkan bagaimana gambar yang muncul di monitor pikiran? Yang selalu di-broadcast oleh pikiran orang miskin adalah kondisi mereka yang serba minim, kekurangan, dan menderita. Dengan demikian gambar mental ini mengaktifkan emosi negatif yang semakin memperkuat kerja LOA. Mereka dapatkan apa yang mereka ”minta”

Berbeda dengan orang kaya. Yang mereka pikirkan adalah apa yang mereka inginkan (wants). Emosi yang muncul adalah emosi positif. Akibatnya? Mereka menjadi semakin kaya.

Anda mungkin berkata, ”Lho, Pak, saya kenal ada orang miskin yang juga senantiasa memikirkan wants, lho. Tapi kenapa hidupnya kok ya tetap susah?”

Ingat, LOA memberikan respon pada vibrasi pikiran yang mendasari setiap ucapan dan tindakan. Bisa saja orang miskin ini memikirkan wants. Tapi dasar pemikiran mereka bukan demi kebahagiaan namun lebih agar mereka bisa ”terbebas” dari himpitan kemiskinan. Nah, yang dominan sebenarnya apakah wants atau needs? Yang ada di pikiran orang miskin ini adalah scarcity (kekurangan) bukan abundance (keberlimpahan).

Lalu bagaimana dengan nasib sial yang beruntun? Wah, kalau ini jawabannya agak susah. Bagi yang sering mengalami sial atau ketidakberuntungan, misalnya musibah, sakit, masalah, dan yang lainnya, maka saran saya adalah anda harus segera cari orang pintar untuk di-ciswak atau di-ruwat. He..he...kalau yang ini jangan ditanggapi serius. Ini hanya bercanda.

Nah, kembali ke masalah nasib sial yang beruntun. Apa yang sebenarnya terjadi?

Sebelum saya jelaskan, saya akan berikan contoh kasus nyata yang pernah saya tangani.

Seorang pengusaha besar, Pak Agung, datang ke tempat saya, diantar oleh rekannya yang kebetulan juga kawan saya. Pak Agung mengeluh bahwa sudah dua tahun lebih ia mengalami depresi. Usahanya merosot hanya tinggal 30% dari biasanya. Orang terbaiknya keluar dan ia mendapatkan banyak hambatan/musibah dalam usahanya.

Melalui in-depth interview saya akhirnya menemukan akar masalahnya. Ceritanya begini. Dua tahun lalu Pak Agung pergi ke salon di sebuah hotel bintang lima. Pak Agung berniat memotong rambutnya. Saat itu ada beberapa orang yang juga sedang dipotong rambutnya. Tiba-tiba salah satu dari tamu itu terbatuk-batuk, gemetar, napasnya sesak, dan jatuh dari kursi. Semua yang ada di salon itu panik dan tidak ada yang berani mendekat. Pak Agung duduk persis di samping tamu ini.

Dengan terpaksa Pak Agung berusaha membantu tamu yang sakit ini. Lima belas menit kemudian tamu ini tubuhnya membiru dan meninggal. Ternyata ia kena serangan jantung. Nah, celakanya Pak Agung mempunyai belief bahwa bila ia berada di samping orang yang meninggal maka ini merupakan pertanda sangat buruk. Ini benar-benar apes yang sangat berat. Ia meyakini hal ini. Emosinya bergejolak.

Sejak saat itu Pak Agung mulai mengalami banyak ”kesialan” dalam hidupnya. Dan ”kesialan” ini semakin lama semakin banyak dan beruntun. Seakan-akan seperti sebuah downward spiral yang semakin lama semakin cepat menarik Pak Agung turun.

Apa yang saya lakukan untuk membantu Pak Agung. Sederhana saja. Saya tidak menggunakan hipnosis/hipnoterapi karena beberapa alasan. Salah satunya adalah karena Pak Agung belum bersedia diterapi dengan hipnoterapi. Salah dua adalah karena Pak Agung masih minum obat penenang sehingga kesadarannya tidak bekerja optimal.

Saya hanya menyarankan Pak Agung untuk mulai memikirkan hal-hal yang ia inginkan. Bukan hal-hal yang justru tidak ia inginkan. Tujuannya untuk menghentikan suplai energi ke pikiran ”sial” dan mulai mengarahkan energi pikirannya ke ”keberuntungan”.

Pak Agung mengakui bahwa sulit baginya untuk melakukan hal ini. Saya bisa menyadari kesulitannya karena daya kerja LOA telah begitu kuat mencengkram pikirannya. Selanjutnya yang bisa saya sarankan adalah untuk mengalihkan pikirannya ke hal-hal yang, bila ia lakukan, akan menimbulkan perasaan senang, tenang, damai, atau bahagia. Pokoknya hal-hal apa saja yang bisa membuatnya feel good. Teknik ini dikenal dengan nama distraction.

Apa itu? Misalnya karaoke, bermain dengan anak, memelihara ikan, merawat bunga/tanaman, liburan, nonton film, jalan ke mall, berdoa, meditasi, atau apa saja.

Setelah membaca uraian di atas saya yakin anda kini pasti mengerti mengapa ”nasib” seseorang bisa berubah setelah di-ciswak atau diruwat. Prosesi ciswak atau ruwatan ini sebenarnya hanyalah tool untuk meyakinkan pikiran seseorang sehingga fokusnya berubah dari yang sebelumnya berpikiran negatif ke pikiran yang positif. Dengan demikian, sesuai dengan prinsip kerja LOA, orang ini mulai menarik hal-hal positif ke dalam hidupnya. Dengan demikian nasibnya berubah.

Misalnya anda pengusaha dan anda merasa nasib anda sial terus. Lalu anda memutuskan menjalani ruwatan. Eh... ternyata usaha anda masih rugi , katakanlah, Rp. 1 miliar. Pikiran anda akan berkata, ”Untung sudah diruwat. Coba kalau nggak. Wah saya bisa rugi Rp. 10 miliar. Karena sudah mengalami kerugian maka sialnya sudah lewat. Setelah ini pasti yang datang hanyalah keberuntungan”. Dengan mindset seperti ini sudah tentu anda akan mengalami keberuntungan.

Sebagai penutup saya ingin berbagi cerita mengenai kawan saya. Sebut saja namanya Pak Hari. Pak Hari adalah kepala kantor wilayah salah satu bank plat merah terbesar di Indonesia. Beliau mencapai posisi ini dengan mudah dan lancar. Bahkan beliau adalah kakanwil termuda dalam sejarah bank ini. Pak Hari ini memang sangat luar biasa kepribadiannya. Low profile tapi high profit.

Karena penasaran mendengar perjalanan karirnya saya lalu bertanya hal apa saja yang ia lakukan untuk bisa mencapai posisinya sekarang. Beliau memang tipe orang yang suka kerja keras. Namun ada satu hal yang berbeda yang akhirnya saya temukan. Apa itu? Beliau adalah seorang muslim yang taat. Selalu melakukan sholat lima waktu. Yang istimewanya, setiap selesai menyelesaikan sholat, beliau selalu memanjatkan doa, yang saya simpulkan sebagai afirmasi yang sangat dahsyat yang membuat LOA bekerja mendukung dirinya.

Apa doanya? Sederhana dan singkat. Beliau tidak minta macam-macam. Doa atau afirmasi yang selalu beliau panjatkan kepada Sang Hidup adalah, ”Ya, Allah, saya mohon agar dimudahkan jalanku”.

Pada artikel berikutnya saya akan menjelaskan cara untuk mendapatkan hasil spektakular tanpa harus mengubah belief.

The Law of Attraction (1)

Oleh : Adi W. Gunawan

The vibrations of mental forces are the finest and
consequently the most powerful in existence

~Charles Haanel

Banyak orang yang bingung saat saya menjelaskan prinsip sukses yang kami ajarkan di Supercamp (SC) Becoming a Money Magnet. Berbeda dengan kebanyakan prinsip sukses yang telah mereka ketahui di SC kami mengajarkan 5 langkah sukses yang menjadi intisari dari teknik untuk menggunakan The Law of Attraction (LOA) dengan mudah dan optimal.

Ada seorang pembaca buku dari Jakarta yang menelpon saya dan bersikeras mengatakan bahwa keberhasilan yang dialami oleh rekan-rekan yang mempraktikkan apa yang kami bagikan di SC hanyalah kebetulan. Pembaca ini merasa bahwa sukses itu nggak mudah. Sukses hanya bisa diraih dengan perjuangan keras dan kalau perlu sampai “berdarah-darah”.

Melalui percakapan yang cukup intens selama hampir setengah jam saya menjelaskan prinsip kerja LOA. Salah satu hal yang saya sampaikan padanya adalah, “Do you want to be successful through the hard way or easy way?” Keberhasilan akan sangat sulit dicapai, atau membutuhkan upaya yang sangat keras (massive action), bila kita bekerja tidak sejalan dengan LOA.

Banyak orang yang kurang atau tidak mengerti mengenai cara kerja LOA. Akibatnya mereka menggunakan LOA secara tidak sadar (by default) dan membuat hidup mereka menderita. Ada juga orang yang walaupun tidak menyadari adanya LOA namun mereka dapat menggunakannya untuk kemajuan hidup mereka.

Melalui artikel ini saya ingin menjelaskan lebih detil mengenai LOA dan bagaimana kita, dengan pemahaman yang benar mengenai LOA, akan dapat menggunakan LOA untuk kemajuan kita di berbagai aspek kehidupan.

Untuk bisa mengerti cara kerja LOA kita perlu mengetahui cara kerja pikiran. Pikiran mempunyai vibrasi. Dan apapun yang kita pikirkan akan dikirim ke semesta alam dalam bentuk sinyal yang akan menarik segala sesuatu yang sejalan dengan vibrasi pikiran kita. Likes attract likes. Dengan memahami hal ini maka apapun yang terjadi dalam hidup kita baik yang positif dan negatif adalah akibat dari hasil kerja LOA yang diaktifkan dan diarahkan oleh pikiran kita.

Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah sifat LOA yang selalu ”on”. ”Selalu” artinya tiap detik selama kita hidup dan pikiran masih bekerja maka LOA akan aktif.

Untuk mudahnya saya berikan ilustrasi berikut. Bayangkan anda bekerja, sebagai seorang manajer, di stasiun televisi. Tugas anda menentukan materi siaran yang akan ditayangkan secara live. Anda bebas menentukan apa jenis materinya. Setiap materi yang akan disiarkan akan ditampilkan di layar monitor dan setelah itu akan di-broadcast dengan satelit ke seluruh dunia. Anda mendapat materi siaran dari dua tim yang berbeda. Ada tim A dan tim B. Apapun usulan materi siaran yang mereka ajukan, andalah yang berhak menentukan pilihannya.

Apa yang saya jelaskan di atas sama dengan cara kerja pikiran. Anda, pada ilustrasi di atas adalah kesadaran diri. Tim A adalah pikiran sadar dan Tim B adalah pikiran bawah sadar. Layar monitor adalah layar mental/pikiran anda. Dan karena sifat siarannya adalah live maka apapun yang muncul di layar monitor akan langsung disiarkan tanpa sensor sama sekali.

Namun jangan khawatir. Walaupun apa yang ada di pikiran akan selalu disiarkan hal ini tidak berarti kita akan langsung bisa mendapatkan atau menarik hal-hal yang ada di pikiran kita ke dalam realita fisik kita. Dengan bahasa yang lebih sederhana ada waktu jeda/time-delay antara saat kita mem-broadcast materi pikiran dan saat kita mendapatkan apa yang kita broadcast.

Pertanyaannya sekarang adalah mengapa ada lebih banyak orang yang hidupnya susah dibandingkan dengan orang yang bahagia? Mengapa lebih banyak orang yang gagal dibandingkan dengan yang sukses?

Dengan memahami cara kerja LOA maka akan sangat mudah menjawab pertanyaan ini. Orang gagal/susah adalah orang yang menggunakan LOA untuk menarik hal-hal yang justru tidak mereka inginkan. Sedangkan orang sukses/bahagia adalah orang yang, baik secara sadar atau tidak, menggunakan LOA untuk menarik hal-hal yang mereka inginkan.

Anda bisa membantah saya dengan berkata, “Lha, Pak, siapa yang mau hidup susah. Hanya orang edan saja yang mau hidup susah. Bukankah orang yang gagal atau hidup susah itu juga telah berusaha keras untuk bisa sukses/bahagia?”

Anda benar sekali dan juga keliru. Anda benar bahwa tidak ada orang yang mau gagal. Namun anda keliru jika hanya menilai seseorang berdasar tindakan atau ucapannya. Mengapa bisa begitu? Karena LOA tidak memberikan respon pada tindakan atau ucapan. LOA hanya memberikan respon pada (vibrasi) pikiran yang mendasari tindakan atau ucapan. Anda jelas sekarang? Yang paling penting adalah pikiran di balik setiap tindakan atau ucapan kita.

Pikiran mempunyai dua outlet yaitu ucapan dan tindakan. Jadi, apapun yang kita ucapkan dan lakukan selalu diawali dengan pikiran. Untuk bisa menggunakan LOA demi kemajuan kita maka yang perlu kita benahi dan tingkatkan adalah kualitas berpikir kita. Bukan ucapan atau tindakan kita.

Anda mungkin ingat cerita mengenai seorang wanita yang sangat membenci ibunya. Sejak kecil wanita ini memutuskan bahwa kelak saat dewasa ia tidak ingin menjadi seperti ibunya. Keinginan untuk tidak menjadi seperti ibunya begitu kuat tertanam di pikiran si wanita ini. Setelah dewasa apa yang terjadi? Wanita ini menjadi serupa dengan ibunya. Lha, kok bisa? Ini adalah salah satu bentuk dari hasil kerja LOA. Dengan tidak ingin menjadi seperti ibunya maka yang muncul di layar mentalnya adalah si ibu. Wanita ini secara tidak sadar telah memberikan perhatian, fokus, dan energi dalam bentuk emosi kepada buah pikirnya. Sehingga ia mendapatkan hasil yang seakan-akan bertentangan dengan keinginannya.

Dari umpan balik yang saya terima dari para alumnus SC, sudah ada 3 (tiga) orang yang mendapatkan mobil gratis. Dua alumnus mendapat hadiah dari kawan mereka padahal mereka sama sekali tidak meminta. Sedangkan yang satunya mendapatkannya dari sebuah bank. Yang lebih istimewa dari kawan kami yang dapat mobil dari bank yaitu saldonya hanya sebesar Rp. 300.000 saja.

Anda mungkin bingung dan bertanya, ”Ah, yang benar saja. Masa semudah ini?”. Pertanyaan ini juga yang sering muncul di pikiran saya dan kawan-kawan yang ”beruntung”. Kita mengalami LOA namun kita tetap masih begitu terkagum-kagum.

Di SC kami mengajarkan 5 langkah sukses yang menjadi intisari apa yang kami tulis di buku Becoming a Money Magnet yaitu 1) Tahu apa yang diinginkan/Dream, 2) Yakin, 3) Syukur, 4) Pasrah, dan 5) Doa.

Sederhana, bukan?

Apakah dengan mengetahui dream berarti kita bisa langsung mendapatkan apa yang kita inginkan dengan bantuan LOA? Belum bisa. Ada syarat lain yang harus dipenuhi. Apa itu ? Buah pikir (thought) bila hanya dipikirkan ”apa adanya” akan mempunyai efek tarikan yang kecil. Untuk bisa memperbesar efek tarikannya, dengan demikian mempercepat realisasi pikiran-menjadi-realita fisik, dibutuhkan bantuan emosi sebagai booster. Emosi yang dimaksud bisa berupa emosi positif maupun yang negatif.

Sekarang coba kita lihat hidup kebanyakan orang yang ”biasa-biasa”. Mereka biasanya salah menggunakan pikiran mereka. Apa maksudnya?

Pikiran tidak mengenal garis waktu yang membagi waktu menjadi masa lalu, sekarang, dan masa depan. Yang ada hanya satu waktu saja yaitu saat ini, the moment. Kebanyakan orang hidup di masa lalu mereka. Yang mereka ingat sering kali adalah pengalaman buruk, kegagalan, dan atau kejadian traumatik yang pernah mereka alami. Kalaupun mereka ”melihat” ke masa depan maka yang dilihat adalah juga sesuatu yang suram dan tidak menyenangkan.

Sekali lagi, pikiran hanya mengenal ”saat ini”. Saat kita memikirkan kejadian di masa lalu maupun sesuatu yang kita antisipasi di masa depan maka semua bentuk pikiran ini langsung muncul di layar monitor kita. Apa yang terjadi setelah itu? Benar sekali. Apa yang ada di layar monitor (pikiran) langsung disiarkan. Selanjutnya apa yang terjadi? Dengan ”bantuan” LOA kita akan menarik segala sesuatu yang sejalan dengan vibrasi buah pikir kita.

Oh ya satu hal yang perlu saya tekankan adalah bila saya berbicara mengenai pikiran maka saya selalu mengacu pada kedua pikiran yaitu pikiran sadar dan bawah sadar. Pengalaman klinis membuktikan bahwa yang mendominasi pikiran kita adalah pikiran bawah sadar yang kekuatannya sembilan kali lebih kuat dari pikiran sadar.

Jika kita ingin membuat LOA bekerja maksimal maka kita perlu membereskan berbagai mental block yang ada di pikiran bawah sadar. Seringkali apa yang kita pikirkan secara sadar, misalnya ingin sukses, ternyata bertentangan dengan buah pikir yang ada di pikiran bawah sadar.

Yang terjadi selanjutnya adalah kita mem-broadcast dua macam vibrasi pikiran. Yang satu ingin kita sukses dan yang satu lagi tidak ingin kita sukses. Mana yang lebih kuat efeknya? Sudah tentu vibrasi dari pikiran bawah sadar. Mengapa? Karena buah pikir dari pikiran bawah sadar telah di-charge dengan emosi.

Nah, setelah mengetahui hubungan antara pikiran dan LOA lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan LOA untuk kemajuan kita? Kuncinya satu yaitu kesadaran diri. Kita harus berusaha selalu sadar untuk mengarahkan pikiran kita untuk hanya memikirkan hal-hal yang kita inginkan.

Pada artikel selanjutnya saya akan membahas lebih dalam lagi mengenai The Law of Attraction.

Chicken into Eagle

Oleh : Adi W. Gunawan

“The empires of the future are the empires of the mind”
~ Sir Winston Churchill

Hampir di semua buku saya, khususnya bila saya mengulas mengenai kunci sukses,saya selalu membahas mengenai konsep diri. Mengapa saya sangat menekankan pentingnya konsep diri? Konsep diri adalah operating system komputer mental kita. Konsep diri menentukan kinerja kita. Level konsep diri menentukan level prestasi hidup.

Konsep diri terdiri dari tiga komponen yaitu diri ideal (ideal self), citra diri (self image), dan harga diri (self esteem). Diri ideal adalah siapa diri kita di masa depan. Diri ideal adalah pribadi sukses kita. Orang yang kita ingin menjadi. Citra diri adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri saat ini. Ini adalah gambaran mental mengenai diri kita di masa sekarang. Sedangkan harga diri adalah perbandingan antara citra diri dan diri ideal. Bila harga diri kita rendah maka prestasi hidup kita pasti rendah. Demikian pula sebaliknya.

Mengapa saya kembali menulis mengenai topik ini? Ada satu kisah menarik yang bisa kita jadikan sebagai bahan pembelajaran. Ceritanya begini. Awal January 2007 lalu kami, saya dan hopeng saya Ariesandi, menyelenggarakan Supercamp Becoming a Money Magnet. Supercamp kali ini dihadiri oleh 31 peserta dari berbagai kota. Ada yang datang dari Jakarta, Balikpapan, Menado, Surabaya, Samarinda, dan kota lainnya. Kami menyelenggarakan SC dengan jumlah peserta yang sangat kami batasi bukan hanya untuk menjaga eksklusivitas SC namun juga untuk bisa memberikan hasil terbaik bagi peserta.

SC sarat dengan praktik dan bimbingan untuk bisa secara sadar masuk ke pikiran bawah sadar dan menemukan mental block yang menghambat keberhasilan. Proses ini, masuk ke pikiran bawah sadar, mengidentifikasi dan menghancurkan mental block, bukanlah sesuatu yang mudah. Proses ini sangat sulit dijalankan dengan baik bila peserta terlalu banyak, katakanlah sampai di atas 50 orang. Apalagi kalau sampai ratusan orang. Jelas tidak mungkin. Walaupun ada kawan yang meminta kami menyelenggarakan SC akbar dengan jumlah peserta sampai ratusan, kami tetap pada prinsip kami.

Ada banyak teknik yang kami gunakan untuk membantu peserta melakukan reprogramming pikiran bawah sadar. Di salah satu sesi untuk mengidentifikasi mental block ada tiga orang peserta yang mengalami inner conflict cukup serius yang tampak dari reaksi fisik mereka.

Satu peserta merasa pusing karena merasa ada blocking energi di daerah tengkuknya, satu lagi peserta wanita mengalami muntah, dan yang paling parah adalah yang mengalami kejang pada seluruh tubuh. Khusus untuk yang kejang, sebut saja Bram, kami memberikan penanganan khusus dan segera.

Saya yakin anda pasti merasa ”ngeri” saat membaca uraian saya. Namun ini sebenarnya sangat lumrah. Penanganannya juga sangat mudah. Tentu saja mudah bagi kami karena kami memang biasa melakukan terapi. Lalu, apa sih yang terjadi di pikiran bawah sadar Bram?

Bram bisa melihat dirinya di masa depan dengan sangat jelas. Bagaimana penampilannya, rupanya, tingkahnya, sikapnya, caranya berjalan, gaya hidupnya, rumah, mobil, dan apa saja yang ia idamkan, dapat ia lihat dengan jelas sekali. Untuk beberapa saat Bram ”hidup” di masa depan yang sangat indah. Masa depan yang ia impikan.

Namun ada satu bagian dari diri Bram yang menolak hal ini. Bagian ini merasa Bram tidak layak atau tidak mungkin bisa mencapai impiannya. Namun di satu sisi ada satu bagian lainnya, dari diri Bram, yang benar-benar menginginkan dan yakin bahwa Bram berhak dan layak untuk bisa mencapai apapun impiannya.

Di pikiran bawah sadar Bram terjadi pertentangan, pertempuran sengit, tarik ulur, saling mempengaruhi antara dua bagian yang akhirnya mempengaruhi kondisi fisiknya. Bram mengalami kejang. Penanganannya mudah. Hanya dalam waktu beberapa menit kami berhasil mengintegrasikan dua bagian yang konflik ini.

Wanita muda yang mengalami muntah kasusnya lain lagi. Ia tahu bahwa dalam dirinya ada konflik. Namun ia berusaha keras untuk menyangkal dan meyakinkan dirinya bahwa everything is ok. Setelah muntah mukanya pucat dan telapak tangannya dingin. Suaminya, yang juga ikut SC agak khawatir. Setelah sempat dialiri energi dan dilakukan pemijatan pada titik-titik energi tertentu di tubuhnya dengan cepat kondisinya kembali pulih seperti sedia kala.

Pembaca, kasus yang saya ceritakan di atas sebenarnya adalah kasus biasa yang sering terjadi di ruang praktik terapis. Bahkan ada yang lebih parah lagi. Kondisi luapan emosi ini istilah teknisnya abreaction. Untuk jelasnya anda bisa membaca buku saya Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring. Saya nggak promosi buku baru saya lho.

Mengapa bisa terjadi seperti itu? Dalam kondisi normal konflik internal ini tidak terlalu tampak. Yang tampak dipermukaan adalah pengaruh dari konflik ini dalam bentuk perilaku tertentu. Misalnya kebiasaan menunda pekerjaan, perasaan tidak enak saat menetapkan suatu target yang ingin dicapai, keinginan untuk mencapai suatu impian namun ada perasaan diri kurang berharga atau kurang layak untuk mencapai impian itu, atau apapun yang dirasakan dalam diri seseorang yang sifatnya ”nggak enak”.

Salah satu cara paling mudah untuk memeriksa apakah dalam diri kita ada konflik atau tidak adalah dengan memeriksa perasaan kita. Contohnya? Misalnya income anda sekarang Rp. 5 juta. Anda ingin mencapai income Rp. 20 juta. Anda bisa memvisualisasikan pencapaian itu dengan sangat jelas. Namun ada perasaan tidak enak di hati anda. Rasanya kok sulit. Nah, ini tandanya ada konflik. Kalo istilah orang NLP kondisi ini disebut dengan ”tidak kongruen”.

Contoh lain adalah bila kita memberikan target pembelajaran bagi anak. Anak kita misalnya nilai bahasa Inggrisnya hanya 60. Kita membantu anak menetapkan goal, katakanlah mencapai nilai 90. Walaupun anak mau mencapai target ini, anda sebaiknya menanyakan perasaan anak. Apakah ada yang mengganjal di hatinya? Apakah ada perasaan ”nggak enak”? Kalau ya, maka ini berarti ada penolakan di pikiran bawah sadarnya.

Yang terjadi sebenarnya adalah anak (citra diri) tidak bisa melihat dirinya mencapai nilai 90 (diri ideal). Karena anak ”yakin” sulit atau mustahil mencapai nilai 90 maka akibatnya harga diri anak akan mengalami goncangan.

Jika anda sulit memahami cara kerja self esteem atau harga diri, saya akan menggunakan analogi uang. Anggaplah harga diri kita sama dengan jumlah uang yang kita miliki. Kalau uang kita hanya Rp. 100.000 dan kita ingin membeli barang dengan harga Rp. 1.000.000 maka tidak peduli apapun yang kita lakukan, mau mengemis, mengancam, menangis, berdoa, berlutut memohon kemurahan hati penjual, atau apapun, dalam kondisi normal, kita tidak mungkin bisa mendapatkan barang itu. Lha, siapa yang mau rugi dengan menjual barang seharga Rp. 1 juta di harga Rp. 100.000?

Apapun kondisinya bila terjadi konflik antara pikiran sadar (keinginan mencapai nilai 90/income Rp. 20 juta) dan pikiran bawah sadar (citra diri; nilai sekarang 60/income sekarang Rp. 5 juta) maka yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar. Teori pikiran mengatakan bahwa perbandingan kekuatan pikiran sadar dan bawah sadar adalah 1:9.

Bagaimana caranya agar target yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan mudah? Caranya sederhana walau tidak mudah melakukannya. Kita harus, dengan menggunakan intervensi terapeutik tertentu, meningkatkan citra diri sehingga mendekati atau kalau bisa sama dengan diri ideal kita.

Satu hal yang sungguh menggembirakan kami adalah Bram mengatakan bahwa ia telah mengalami peningkatan diri yang luar biasa setelah proses integrasi yang ia alami. Apa pengaruhnya pada diri Bram?

Wah, sangat banyak. Kawan-kawannya mengatakan bahwa sejak saat itu Bram menjadi jauh lebih percaya diri, lebih ramah, lebih aktif dalam komunikasi, lebih bahagia dan tenang, lebih berani, dan masih banyak hal positif lainnya. Mereka yang telah mengenal Bram sekian tahun hanya bisa bengong melihat perubahan yang terjadi pada Bram.

Jujur, kami sendiri kaget dan terpesona dengan perubahan pada diri Bram. Kami tahu bahwa perubahan positif ini pasti terjadi. Namun kami kembali terpesona oleh kekuatan pikiran dan pengaruhnya terhadap hidup manusia.

Pikiran adalah kunci untuk perubahan. Pikiran adalah kunci untuk mengubah seekor anak ayam menjadi seorang elang perkasa yang mampu terbang tinggi menjelajahi angkasa raya.

Saya teringat kata bijak guru spiritual yang menyatakan bahwa ”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk” dan ”As a man thinketh in his heart so is he”.

Pikiran Bawah Sadar Sangat Sadar Dan Cerdas

Oleh : Adi W. Gunawan

Dunia objektif muncul dari pikiran itu sendiri
~Buddha

Benar, anda tidak salah membaca judul artikel ini. Banyak orang tidak tahu bahwa sebenarnya pikiran bawah sadar sangat sadar dan cerdas. Kita menyebutnya pikiran bawah sadar karena pikiran sadar kita seringkali tidak menyadari keberadaan dan cara kerja pikiran bawah sadar.

Proses berpikir yang terjadi antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar berjalan pararel atau bersamaan. Bedanya adalah pikiran sadar bisa berhenti bekerja sedangkan pikiran bawah sadar tidak akan pernah berhenti walau hanya sedetik saja. Saat pikiran bawah sadar kita berhenti bekerja maka saat itu pula kontrak hidup kita di dunia ini sudah selesai.

Lalu apa maksudnya dengan pernyataan bahwa pikiran bawah sadar sangat sadar dan cerdas?

Untuk menjelaskan pernyataan ini saya akan menceritakan kasus seorang klien, sebut saja Pak Purnomo, yang pernah saya tangani.

Ceritanya begini. Pak Purnomo datang ke tempat saya untuk konsultasi dan terapi. Keluhannya yaitu ia telah bekerja sangat keras, fokus, pantang menyerah, namun tetap sangat sulit untuk berhasil. Selalu saja ada hambatan yang ia alami. Pak Purnomo malah sempat berpikir bahwa sudah nasibnya jadi orang gagal. Lha, sudah berusaha habis-habisan kok masih nggak bisa sukses.

Melalui diskusi yang intens saya akhirnya berhasil menggali dan menemukan akar masalah yang membuat Pak Purnomo begitu sulit untuk berhasil.

Oh ya, Pak Purnomo adalah seorang salesman. Ia sempat sukses besar dan mendapat bonus mobil dari hasil bisnisnya. Namun secepat ia meraih keberhasilan itu demikian cepat pula bisnisnya turun dan akhirnya stagnan.

Saya berusaha menggali akar masalah dengan menanyakan perasaan yang dirasakan Pak Purnomo setiap kali ia menjalankan bisnisnya. Ternyata perasaan yang senantiasa muncul adalah ia merasa tidak tulus terhadap calon klien, merasa tidak pantas jika mendapatkan untung dari hasil penjualannya, merasa takut ditolak, dan tidak berani melakukan follow-up terhadap calon klien.

Apabila ia harus menemui klien di luar kota maka yang muncul adalah perasaan tidak nyaman, khawatir, dan enggan untuk pergi jauh dari keluarganya. Ia (pikiran sadar) tahu bahwa semua ini ia lakukan demi membahagiakan keluarganya namun perasaan tidak enak ini sangat kuat dan akhirnya mengganggu kinerjanya.

Bila dianalisis sepintas maka yang tampak menjadi akar masalah adalah perasaan tidak percaya diri atau harga diri yang kurang baik. Bila kurang jeli dalam melakukan analisis maka bisa muncul kesimpulan yang menyatakan bahwa Pak Purnomo ini kurang fokus, tidak tahu impiannya, terlalu banyak alasan, tidak berani mengambil keputusan besar, tidak mau just-do-it agar bisa dapat duit, tidak melakukan massive action, atau mungkin juga ia pada dasarnya malas.

Apakah benar kesimpulan di atas?

Melalui penggalian (baca: interview) yang hati-hati dan mendalam akhirnya diketahui bahwa semua hambatan atau alasan yang diceritakan oleh Pak Purnomo sebenarnya adalah simtom (symptom) dari suatu akar masalah (root cause) yang jauh lebih serius.

Sebagai terapis jika kita tidak hati-hati maka yang akan kita terapi adalah perasaan tidak percaya diri dan bukan akar masalanya. Nah, bila yang kita, sebagai terapis, bereskan adalah simtom maka keluhan yang sama pasti akan muncul lagi di kemudian hari.

Lalu, apa sih sebenarnya akar masalah Pak Purnomo?

Percaya nggak kalau saya memberi tahu anda bahwa akar masalahnya bukan perasaan tidak percaya diri. Akar masalahnya adalah perasaan bersalah yang mendalam terhadap orangtuanya.

Lho, lalu apa hubungan antara perasaan bersalah terhadap orangtua dan perasaan tidak tulus terhadap calon klien, merasa tidak pantas jika mendapatkan untung dari hasil penjualan, merasa takut ditolak, tidak berani melakukan follow-up terhadap calon klien, dan merasa cemas kalau harus meninggalkan keluarganya ke luar kota untuk menjalankan bisnisnya?

Dulu, waktu saya baru mulai menjadi seorang terapis, saya bingung jika menghadapi kasus seperti ini. Namun pengalaman yang saya kumpulkan dari banyak membaca berbagai literatur dan praktik menangani banyak klien akhirnya memberikan pencerahan bagi diri saya.

Saya langsung ingat dengan apa yang dikatakan oleh maestro hipnoterapi Milton Erickson mengenai pikiran bawah sadar. Dalam buku saya Hypnotherapy:The Art of Subconscious Restructuring saya mengutip sembilan hal menarik yang dikatakan oleh Erickson mengenai pikiran bawah sadar. Salah duanya adalah pikiran bawah sadar sangat sadar dan cerdas. Selain itu salah satu sifat dan tujuan pikiran bawah sadar adalah melindungi pikiran sadar dan diri seseorang dari sesuatu hal yang dirasa merugikan atau membahayakan.

Nah, saat saya menemukan akar masalah Pak Purnomo saya hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala takjub akan hasil pengamatan Erickson. Benar sekali. Dalam kasus Pak Purnomo pikiran bawah sadarnya melindungi dirinya dari sesuatu yang ”dipandang” akan ”merugikan” diri Pak Purnomo.

Hal apa yang dipandang akan merugikan Pak Purnomo?

Keberhasilannya di bisnis yang ia jalankan.

Lho, bukankah Pak Purnomo sangat ingin sukses?

Tentu. Tapi, ini kan kemauan pikiran sadar Pak Purnomo. Bukan keinginan pikiran bawah sadarnya. Dari teori pikiran kita tahu bahwa pikiran bawah sadar sembilan kali lebih kuat dari pikiran sadar. Dengan demikian bila terjadi konflik maka yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar.

Nah, sekarang mari kita analisis apa yang terjadi pada diri Pak Purnomo.

Pikiran sadar Pak Purnomo ingin agar ia bisa sukses di bisnis yang ia jalani. Di sisi lain, pikiran bawah sadarnya merasa bersalah dan ingin agar Pak Purnomo tidak melukai perasaan orangtuanya.

Apa sih yang terjadi di antara Pak Purnomo dan orangtuanya sehingga timbul perasaan bersalah di dalam diri Pak Purnomo?

Ceritanya begini. Pak Purnomo dulu telah berjanji kepada orangtuanya bahwa ia akan menekuni satu bidang profesi tertentu. Nah, orangtuanya sangat berharap agar Pak Purnomo benar-benar menjalani profesi tersebut. Ternyata, seiring dengan waktu berjalan Pak Purnomo memutuskan menekuni bidang profesi yang sama sekali berbeda dengan profesi yang dulu pernah ia janjikan. Sudah tentu orangtuanya sangat kecewa. Pak Purnomo, walaupun menyadari kekecewaan orangtuanya dan merasa bersalah karena telah ingkar janji, tetap menekuni profesi yang ia pilih.

Di sinilah pikiran bawah sadar mulai ”berulah”. Jauh di lubuk hatinya Pak Purnomo merasa bersalah karena telah ingkar janji. Nah, pikiran bawah sadar, dengan logika berpikirnya sendiri, merasa bahwa apa yang dilakukan Pak Purnomo ini tidak pantas. Pikiran bawah sadar ingin Pak Purnomo menepati janjinya pada orangtuanya.

Lalu, apa yang dilakukan pikiran bawah sadar untuk bisa memastikan bahwa Pak Purnomo akan menepati janjinya?

Pikiran bawah sadar memunculkan berbagai simtom dalam bentuk perasaan tidak tulus terhadap calon klien, merasa tidak pantas untuk mengambil keuntungan, merasa tidak nyaman kalau harus keluar kota, dan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya. Intinya adalah pikiran bawah sadar berusaha mensabotase keberhasilan Pak Purnomo di bidang sales dan marketing.

Mengapa pikiran bawah sadar mensabotase Pak Purnomo? Agar Pak Purnomo mengalami kesulitan dan gagal dalam bisnisnya. Dengan demikian Pak Purnomo diharapkan akan menjalankan profesi seperti yang dulu pernah ia janjikan pada orangtuanya.

Dengan menggunakan prosedur terapeutik tertentu, yang akan terlalu teknis bila saya jelaskan di artikel ini, akhirnya saya berhasil melakukan reedukasi pikiran bawah sadar serta melakukan integrasi bagian-bagian dari pikiran Pak Purnomo yang mengalami konflik kepentingan.

Hasilnya? Sungguh dahsyat.

Satu hari setelah melakukan sesi konseling dan terapi saya mendapat sms dari Pak Purnomo yang mengatakan bahwa ia kini merasa jauh lebih baik, tenang, dan damai dengan dirinya sendiri. Tiga hari kemudian Pak Purnomo mendapatkan ”durian runtuh”.

Apa itu?

Pak Purnomo mendapat hadiah mobil dari kawannya. Ini sungguh-sungguh rejeki tak terduga. Pak Purnomo memang telah menuliskan di daftar impiannya bahwa ia ingin punya mobil dengan spesifikasi tertentu. Nah, yang ia dapatkan ternyata lebih bagus dari mobil impiannya. Yang benar-benar ”nggak masuk akal” adalah ia mendapatkan hadiah ini dari seorang kawan yang tinggal di kota lain. Dan benar-benar gratis, nggak usah bayar.

Apa yang terjadi? Jawabannya sederhana saja. Saat mental block telah berhasil diatasi maka pikiran mampu bekerja dengan ”daya” maksimal dan kongruen. Dengan demikian The Law of Attraction dapat diarahkan untuk bekerja secara maksimal dalam membantu kita menarik hal-hal yang kita inginkan.

Oh ya, selain Pak Purnomo, ada dua orang rekan saya lainnya yang juga berhasil mendapatkan mobil gratis. Rekan yang pertama mendapatkan hadiah dari kawannya. Rekan satunya lagi mendapatkan hadiah dari sebuah bank. Semua ini terjadi karena mental block yang selama ini menghalangi mereka telah berhasil diatasi.

So... hati-hati dengan apa yang anda ucapkan atau niatkan karena pikiran bawah sadar anda akan mewujudkannya dengan atau tanpa persetujuan dari pikiran sadar anda.

Kasus yang saya ceritakan ini termasuk kasus yang ringan. Yang lebih rumit lagi adalah bila terjadi double-symptom. Maksudnya, simtom yang tampak dalam perilaku seseorang ternyata adalah simtom dari suatu simtom yang merupakan simtom dari suatu akar masalah.

Symptom Becomes Habit

Oleh : Adi W. Gunawan

In short, the habits we form from childhood make no small difference, but rather they make all the difference.
~Aristotle

Pembaca, kita sudah sangat sering mendengar pepatah ”First we create our habits, then our habits create us” yang artinya “Pertama-tama kita membentuk kebiasaan, selanjutnya kebiasaan akan membentuk kita”. Apa yang Aristoteles katakan dengan sangat tepat menjelaskan pengaruh habit terhadap hidup kita,“Singkatnya, kebiasaan/habit yang kita bentuk sejak masa kecil menentukan kualitas hidup kita”.

Kamus elektronika Encarta mendefinisi symptom:
• indication of illness felt by patient: an indication of a disease or other disorder, especially one experienced by the patient, e.g. pain, dizziness, or itching, as opposed to one observed by the doctor sign.
(indikasi penyakit yang dirasakan oleh pasien: suatu indikasi penyakit atau gangguan lainnya, khususnya yang dialami oleh pasien, mis. sakit, pusing/mual, atau gatal, bukan seperti yang diamati oleh dokter)
• sign of something else: a sign or indication of the existence of something, especially something undesirable.
(tanda dari sesuatu yang lain: sebuah tanda atau indikasi dari keberadaan sesuatu, khususnya sesuatu yang tidak diinginkan)

Sedangkan habit didefiniskan:
• regularly repeated behavior pattern: an action or pattern of behavior that is repeated so often that it becomes typical of somebody, although he or she may be unaware of it
(pola perilaku yang diulang secara teratur; sebuah tindakan atau pola perilaku yang sangat sering diulangi sehingga menjadi ciri khas seseorang, walaupun ia tidak menyadarinya)
• attitude: somebody's attitude or general disposition
(sikap: sikap seseorang atau watak/kencenderungan umum)

Nah, apa hubungan antara simtom dan habit? Sangat erat.

Habit atau kebiasaan yang tampak dalam perilaku seseorang sebenarnya merupakan akibat dari suatu simtom yang merupakan bagian dari suatu akar masalah yang serius.

Bingung?

Ok, kalau begitu saya akan berikan contoh konkrit agar bisa lebih jelas.

Saya akan mulai dengan kasus seorang anak yang pernah saya tangani.

Ceritanya begini. Saya mendapat telpon dari orangtua murid dari salah satu sekolah terkenal, di Surabaya barat, dan berkeluh kesah mengenai anaknya, sebut saja Toni.

Saat saya tanyakan apa masalahnya... eh... saya jadi kaget sendiri. Keluhannya adalah Toni mogok sekolah. Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah Toni baru berusia 3 (tiga) tahun. Wah, saya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar hal ini.

Kesimpulan saya, setelah mendengar cerita Ibu ini adalah Toni mengalami school phobia alias takut sekolah. Saya jelaskan pada Ibu itu bahwa yang menjadi akar masalah sebenarnya mudah untuk kita ketahui. Toni tidak mau sekolah bila bukan karena perlakuan orangtua maka pasti akibat dari perlakuan guru, di sekolah, yang tidak profesional dalam mendidik anak.

Setelah mendengar penjelasan lebih lanjut saya menyimpulkan bahwa ini pasti akibat perlakuan guru yang tidak benar terhadap Toni. Tapi untuk memastikan hal ini saya akan menggali langsung dari Toni.

Saat bertemu dengan Toni, yang diantar oleh ayah dan ibunya, saya melihat Toni baik-baik saja. No problemo. Toni, walaupun agak sedikit tidak percaya diri karena baru pertama kali bertemu dengan saya, bisa diajak komunikasi dengan lancar.

Saya lalu mengajak Toni bermain sulap sambil disaksikan kedua orangtuanya. Toni sangat senang dan antusias. Sambil bermain dan mengarahkan fokus Toni ke permainan yang sedang saya lakukan, saya mengajukan pertanyaan kepada Toni. Kesannya hanya sambil lalu.

Yang saya tanyakan, ”Toni sekarang umurnya berapa? Siapa teman Toni di kelas? Satu kelas ada berapa anak?”

Toni mampu menjawab pertanyaan saya dengan lancar dan gembira sambil terus fokus pada permainan sulap.

Raut wajah dan mood Toni langsung berubah drastis saat saya bertanya, “Siapa Miss (guru) yang paling Toni sayang?”

Begitu mendengar pertanyaan ini Toni langsung diam, matanya melirik ke kiri atas sejenak (mengakses memori dalam bentuk gambar) lalu ke kanan bawah (mengakses emosi), raut wajahnya berubah sedih, dan langsung menangis.

Orangtua Toni melihat dengan sangat jelas perubahan ini. Dari sini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi sesuatu pada Toni yang dilakukan oleh gurunya. Apa itu? Saya tidak tahu. Dan Toni juga tidak mau menceritakannya. Setiap kali saya mulai menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan gurunya, Toni pasti menangis.

School phobia yang dialami Toni, dari pengalaman saya menangani anak yang mengalami masalah yang serupa, sebenarnya hanya merupakan simtom dari akar masalah yang lebih serius, yaitu perasaan takut, terancam, tidak nyaman, tidak berdaya, dan tidak aman bila berada di dalam kelas. Semua ini merupakan akibat dari tindakan guru, baik secara sengaja maupun tidak, yang telah melukai hati seorang anak.

Orangtua yang tidak tanggap dan jeli biasanya tidak akan memperhatikan sejauh ini. Biasanya orangtua ini akan membujuk dan kalau perlu memaksa anak untuk sekolah lagi. Akibatnya bisa sangat buruk terhadap anak. Anak akan menjadi benci sekolah dan akhirnya benar-benar tidak mau sekolah sama sekali.

Biasanya yang akan ditangani oleh orangtua ataupun sekolah hanyalah habit yang tampak dalam perilaku, yaitu tidak mau sekolah. Akar masalah yang sesungguhnya tidak tertangani dan akhirnya mengendap di memori anak. Di masa mendatang hal ini akan menjadi bom waktu yang sangat berbahaya.

Prinsip yang sama berlaku terhadap anak yang ”nakal”. Mengapa anak dicap nakal? Biasanya anak nakal karena mereka ingin mendapat perhatian dari orangtuanya. Biasanya anak akan meminta perhatian itu dengan cara yang baik-baik. Jika cara baik-baik ini tetap tidak mendapat perhatian semestinya maka secara naluriah anak akan melakukan hal-hal lain yang bisa menarik perhatian orangtuanya.

Biasanya yang dilakukan anak untuk menarik perhatian orangtuanya, bila cara baik-baik tetap tidak diperhatikan orangtua, adalah dengan marah, menangis, membangkang, mengganggu adik atau kakaknya, berulah, atau tindakan apa saja yang bisa membuat orangtua, untuk sementara waktu, harus mencurahkan perhatian pada si anak.

Bila strategi ini berhasil satu kali saja maka pikiran bawah sadar anak mulai diedukasi oleh respon yang diberikan orangtua. Selanjutnya anak akan mencoba lagi dengan mengulangi strategi yang sama. Jika kembali berhasil, orangtua memberikan ”perhatian” (baca: marah atau teriak), maka anak akhirnya tahu cara jitu untuk mendapatkan perhatian.

Selanjutnya bisa ditebak apa yang akan dilakukan si anak setiap kali ia ingin mendapat perhatian. Anak pasti akan berulah dan orangtua pasti marah. Akhirnya, karena seringkali diulang (repetisi), anak membentuk kebiasaan/habit ”nakal”. Karena sudah menjadi habit atau kebiasaaan maka untuk mengubahnya akan cukup sulit.

Ada kata bijak yang berbunyi, ”When is the right time to kill a monster? When it is still small”. Artinya, waktu yang paling tepat untuk membunuh seekor monster (baca: kebiasaan buruk) adalah saat monsternya masih kecil (kebiasaan buruk baru mulai terbentuk). Saat monster ini sudah besar (baca: kebiasaan sudah sangat kuat) maka kita yang akan dibunuh oleh monster (kebiasaan) ini.

Oh ya, saat orangtua marah pada anaknya maka saat itu mereka telah memberikan ”perhatian” penuh dan sangat fokus pada anak. Mana bisa kita, orangtua, marah hanya sambil lalu atau tidak fokus. Marah pasti diikuti dengan tingkat intensitas fokus yang tinggi.

Nah, dari apa yang telah saya ceritakan di atas maka kini tampak jelas bahwa ”nakal” adalah habit yang berawal dari simtom. Simtom ini, sesuai dengan definisi, merupakan sebuah tanda atau indikasi dari keberadaan sesuatu. Apa itu? Kebutuhan akan perhatian.
Kasus yang saya ceritakan di atas kesannya ”seram”, ya. Sebenarnya proses yang sama berlaku bagi habit yang positif. Misalnya anak kita marah atau berulah ingin mendapat perhatian kita. Kita, bukannya terpancing ikut marah, dan karena kita mengerti apa yang sebenarnya terjadi yaitu anak butuh perhatian, mengarahkan perilaku anak ke arah yang lebih konstruktif.

Caranya? Kita bisa mengajar anak untuk mengungkapkan perasaannya. Misalnya anak kita kesal karena kita kurang memberikan waktu atau perhatian, kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita. Nah, daripada marah-marah dan berulah alangkah baiknya bila anak bisa mengkomunikasikan perasaan ini kepada kita secara verbal dan dengan cara yang sopan, benar, dan terarah.

Bila pola ini diulang-ulang maka akan membentuk suatu kebiasaan/habit positif. Anak bisa mengerti emosinya dan mengungkapkan emosi ini dengan cara yang proaktif dan konstruktif.

Pola pembentukan habit, yang berawal dari simtom, yang merupakan bagian dari suatu akar masalah tertentu, berlaku universal. Maksudnya, setiap habit atau kebiasaan bila kita telusuri dengan hati-hati maka akan merujuk pada suatu simtom. Selanjutnya bila mengerti caranya kita bisa mengungkapkan akar masalah yang menjadi sumber simtom.

Yang sulit adalah bila suatu habit merujuk pada suatu simtom yang merupakan simtom dari suatu akar masalah. Artinya terdapat double symtom.

Anda mungkin bertanya, ”Ah, masa ada kasus seperti ini?”

Ada seorang pria dewasa, seorang pengusaha sukses, yang begitu takut sama ayam. Ini ayam sungguhan, lho. Bukan ayam-ayam-an. Anda mengerti maksud saya, kan? Setiap kali bertemu ayam maka pria ini pasti langsung menghindar.

Setelah saya bantu akhirnya terungkap bahwa, secara spesifik, ia sangat takut dengan paruh ayam. Ketakutan ini yang akhirnya membuat ia selalu menghindar bertemu dengan ayam.

Kebiasaan menghindari ayam ternyata merupakan simtom yang berawal perasaan takut pada pisau. Setelah digali lebih lanjut ternyata perasaan takut pisau ini merupakan metafora dari perasaan sakit tertusuk, pada sekujur tubuhnya, saat ia dipeluk oleh ibunya. Ternyata akar masalah yang sesungguhnya, setelah digali dari perasaan sakit tertusuk pisau, adalah perasaan terluka dan benci yang sangat dalam terhadap ibunya. Jadi, setiap kali dipeluk ibunya, sewaktu ia masih kecil, perasaan terluka dan benci ini berubah menjadi perasaan sakit seperti tertusuk.

Oh ya, pria ini setelah dibantu akhirnya berhasil mengatasi masalahnya.

Mitos PR : Manfaat atau Mudarat?

Oleh : Adi W. Gunawan

It is not enough to be busy; so are the ants.
The question is: What are we busy about?
~Henry David Thoreau

Dalam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta baru-baru ini, saat di pesawat, saya duduk berdampingan dengan seorang ibu, sebut saja Bu Yuni. Terus terang saya agak kaget waktu disapa oleh Bu Yuni, “Hi, Pak Adi, ya? Apa kabar Pak? Wah, nggak nyangka lho bisa bertemu Pak Adi di sini.”

Sambil bersalaman dan menjawab pertanyaan Bu Yuni saya berusaha keras mengingat di mana pernah bertemu dengan Bu Yuni. Bu Yuni menyadari kebingungan saya dan berkata, “Bingung, kan? Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya Pak. Saya mengenal Pak Adi melalui berbagai artikel yang Bapak tulis di internet dan juga buku-buku Bapak”.

“Oh… begitu toh ceritanya. Makanya saya bingung. Lha, Ibu kenal saya tapi saya kok nggak ingat pernah bertemu Ibu.”, jawab saya lega.

Selama perjalanan sekitar 1 jam antara Surabaya – Jakarta saya memberikan ”mini seminar” dan menjadi rekan diskusi dan sharing dengan Bu Yuni.

Ada banyak hal yang Bu Yuni tanyakan. Salah satu yang menarik adalah mengenai stress yang dialami anak Bu Yuni, yang di SD kelas 3, karena beban pelajaran yang sangat berat.

”Ah, itu sudah lumrah, Bu. Kalau nggak stress namanya bukan sekolah”, canda saya

”Ya, tapi kan kasihan anak saya, Pak. Coba bayangkan. Sudah banyak ulangan, hampir tiap hari deh ulangannya, masih dikasih tugas, eh masih ditambah PR yang sangat banyak. Saya sampe kasihan sama anak saya. Waktunya habis hanya untuk ngerjakan PR, tugas, belajar, dan terus belajar. Nggak ada waktu untuk bermain dan menikmati masa kecil”, keluh Bu Yuni sambil menghela nafas panjang.

Pembaca yang budiman, apa yang saya ceritakan di artikel ini adalah hasil diskusi saya dengan Bu Yuni selama di pesawat dan dilanjut sampai di ruang kedatangan bandara.

Pembaca, pernahkah anda, sebagai orangtua atau pendidik, memikirkan dengan sungguh-sungguh manfaat PR, yang jumlahnya cukup banyak, yang harus dikerjakan anak/murid kita setiap hari?

Dulu saya juga merenungkan hal yang sama. Saat itu saya mengajukan berbagai pertanyaan seputar PR kepada diri saya sendiri:
• Apakah ada pakar yang pernah meneliti korelasi antara PR dan prestasi akademik?
• Apakah benar semakin banyak PR yang dikerjakan maka hasilnya semakin baik untuk anak?
• Apakah nggak sebaliknya, semakin banyak PR justru berpengaruh negatif?
• Apakah ada mata kuliah yang mengajarkan tata cara yang benar dalam memberikan PR kepada anak/murid?
• Apakah ada cara lain, selain PR, untuk meningkatkan prestasi anak?

Setelah banyak merenung, banyak bertanya, banyak membaca literatur, searching di Internet, dan membaca pemikiran para pakar, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa PR yang banyak tidak menjamin peningkatan prestasi akademik.

PR sebenarnya tidak perlu banyak-banyak. Seperlunya saja. PR yang sangat banyak, ditambah lagi dengan beban pelajaran dalam bentuk ujian dan tugas-tugas lainnya justru berakibat negatif pada anak. Saat ini ada sangat banyak anak yang stress karena sekolah. Proses belajar yang seharusnya menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan ternyata kini justru menjadi sesuatu yang sangat membebani anak.

Baru-baru ini saya membaca satu buku bagus, karya Sara Bennet dan Nancy Kalish, yang berjudul The Case Against Homework: How Homework is Hurting Our Children and What We Can Do About It.

Wah, saya senangnya bukan main saat membaca buku ini. Mengapa? Karena buku ini berisi penelitian para pakar di Amerika mengenai korelasi antara PR dan prestasi akademik anak. Apa yang ditulis di buku ini memvalidasi kesimpulan saya mengenai PR. Bahkan lebih ekstrim lagi.

Banyak orangtua dan pendidik yang ”yakin” bahwa PR sangat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman dan hasil pembelajaran anak. Namun penelitian, seperti yang dipaparkan di buku The Case Against Homework, justru mengatakan yang sebaliknya.

National Education Association, yang beranggotakan lebih dari 2,7 juta pendidik di Amerika, dan juga National Parent Teacher Association mengeluarkan panduan tata cara memberikan PR yang benar dan layak.

Tahukah anda apa yang mereka rekomendasikan?

Kedua asosiasi ini merekomendasikan lama waktu ideal untuk mengerjakan PR setiap hari sebagai berikut:
• usia TK sampai SD kelas 2 antara 10 sampai 20 menit
• SD kelas 2 sampai 6 antara 30 sampai 60 menit

Sedangkan menurut Prof Harris Cooper, salah satu peneliti terkemuka di bidang ini, dan juga penulis buku The Battle Over Homework: Common Ground for Adminstrators, Teachers, and Parents, sekolah harus mengikuti aturan “10 menit per malam per level kelas”. Jadi, untuk anak kelas 1 SD maka waktu mengerjakan PR maksimal 10 menit per malam. Untuk kelas 2 SD maksimal 20 menit. Demikian seterusnya.

Yang lebih mengagetkan lagi adalah hasil review yang dilakukan Prof Cooper, pada tahun 2001, atas lebih dari 120 studi mengenai PR dan efeknya, dan ditambah lagi dengan review, pada tahun 2006, terhadap 60 studi lainnya, dengan topik yang sama, ternyata diperoleh data bahwa hampir tidak ada korelasi antara jumlah PR dan prestasi akademik di SD. Sedangkan untuk level sekolah menengah (SMP/SMU) terdapat korelasi yang moderat antara jumlah PR dan prestasi akademik. Namun jika PR yang diberikan terlalu banyak, di sekolah menengah, justru akan kontraproduktif.

Menurut David Baker dan Gerald LeTendre, profesor pendidikan dan penulis buku National Differences, Global Similarities: World Culture and the Future of Schooling, negara-negara yang terkenal dengan pendidik yang memberikan PR yang banyak, seperti Yunani, Thailand, dan Iran ternyata prestasi akademik murid mereka justru sangat buruk.

Sebaliknya negara-negara seperti Jepang, Denmark, dan Czech Republic, yang murid-muridnya menempati ranking tertinggi prestasi akademik dalam skala dunia, ternyata guru-guru di negara ini memberikan sangat sedikit PR.

Prof Baker menyimpulkan bahwa semakin banyak PR yang diberikan kepada murid maka semakin buruk prestasi akademik yang dicapai.

Bahkan pakar lainnya, Prof Kralovec, menyatakan bahwa tidak ada bukti sama sekali bahwa PR baik untuk pemantapan hasil belajar.

Di akhir tahun 1990an banyak sekolah dasar di Jepang yang menetapkan kebijakan ”no-homework” alias tidak ada PR. Tujuannya adalah agar anak bisa mempunyai lebih banyak waktu luang bersama keluarga dan mengerjakan hal-hal lain, di luar kegiatan sekolah, yang menarik minat mereka.

Survey tahun 2006 oleh American Psychological Association (APA) terhadap 1.300 pelajar sekolah menengah mendapatkan data bahwa lebih dari 42% pelajar menyatakan PR mengakibatkan sangat banyak stress dalam diri mereka. Dan hampir 16% mengatakan mereka mengalami stress yang ekstrim.

Sewaktu saya menjelaskan hasil riset ini Bu Yuni langsung bertanya, ”Nah, saya mau tanya nih sama Bapak. Pak Adi kan telah mendirikan sekolah Anugerah Pekerti di Surabaya. Bagaimana kebijakan yang Pak Adi tetapkan di sekolah Anugerah Pekerti dalam hal PR?”

Hasil riset ini tentu harus kita sikapi dengan cermat dan bijaksana. Kami memberikan PR seperlunya saja. Apabila anak diminta mengerjakan latihan soal atau PR maka kami memastikan bahwa anak akan melakukannya dengan hati gembira, tanpa tekanan sama sekali. Bahkan seringkali yang tertulis di agenda murid adalah, ”Kerjakan soal latihan di buku paket matematika, terserah berapa halaman!”

Eiit... tunggu dulu. Jangan salah mengerti dengan apa yang barusan saya jelaskan. Walaupun guru memberikan pesan ”Kerjakan soal latihan di buku paket matematika, terserah berapa halaman!” namun murid kami mengerjakan PR atau latihan sampai berpuluh-puluh halaman. Sama sekali tanpa merasa stress atau tertekan.

Lha, kok bisa?

Dengan memahami psikologi anak, menerapkan proses pembelajaran yang menyenangkan, memahami cara kerja pikiran dan memori, membangun ekspektasi yang tinggi dalam diri setiap murid, menggunakan teknik goal setting yang kondusif dengan tingkat tantangan yang moderat, dan masih banyak pendekatan lainnya, kami bisa membangkitkan motivasi intrinsik dalam diri setiap murid sehingga mereka sangat senang mengerjakan PR atau latihan.

Jadi, PR yang banyak sebenarnya tidak jadi masalah jika anak senang mengerjakannya dan sama sekali tidak merasa terbebani.

Anda mungkin akan berkata,”Sudah tentu Pak Adi bisa melakukan hal ini di sekolah Anugerah Pekerti. Kan Bapak pendirinya. Sekolah lain belum tentu bisa melakukan seperti apa yang guru Anugerah Pekerti lakukan.”

Apakah hanya sekolah kami yang bisa melakukan hal ini?

Oh, tidak.

Pertengahan Maret 2007 lalu saya dan Pak Ariesandi memberikan pelatihan Genius Learning Strategy dan aplikasinya di bidang studi matematika kepada 40 orang guru SD di wilayah Kab. Pasuruan.

Hasilnya?

Luar biasa. Salah satu guru, yang telah menerapkan apa yang kami ajarkan, memberikan laporan yang sungguh menggembirakan. Guru ini, Pak Pendi, berhasil meningkatkan motivasi belajar siswanya, murid SD kelas 6, secara luar biasa. Seluruh murid Pak Pendi sekarang sangat senang belajar. Bahkan prestasi akademik yang dicapai kelas Pak Pendi telah melampaui prestasi kelas satunya yang nota bene terdiri dari anak-anak pilihan. PR? Sama sekali tidak ada masalah. Justru murid-muridnya, dengan senang hati, minta latihan soal kepada Pak Pendi.

Poin penting yang perlu diperhatikan yaitu PR yang diberikan harus didesain sedemikian rupa sehingga hampir semua murid dapat mengerjakan dan menyelesaikan dengan baik dan mendapat nilai evaluasi yang baik. PR atau tugas yang diberikan tidak boleh terlalu sulit. Jika terlalu sulit maka yang lebih sering terjadi adalah PR itu dikerjakan oleh para orangtua, bukan oleh anak/murid. Sudah menjadi rahasia umum orangtua yang lebih sibuk, daripada anaknya, saat si anak mendapat PR.

Selain itu PR tidak boleh sebagai hukuman. Bila kita memberikan PR sebagai bentuk hukuman maka anak akan benci PR dan selanjutnya menjadi benci belajar.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah guru, pada umumnya jarang sekali, jika tidak mau dikatakan tidak pernah, saling berkomunikasi mengenai PR atau tugas yang akan diberikan kepada murid. Seringkali terjadi tumpang tindih dalam memberikan PR atau tugas. PR atau tugas sebenarnya bisa dikurangi bila sesama guru saling berkoordinasi sehingga satu tugas meliputi beberapa bidang studi.

Apakah mungkin kita meniadakan PR sama sekali? Jawabannya may be yes... may be no.

PR bisa ditiadakan bila pembelajaran di kelas tuntas. Jadi, anak benar-benar mengerti materi yang diajarkan gurunya di kelas. Nah, jika ini bisa kita lakukan maka PR bisa ditiadakan. Atau bila tetap perlu diberi PR maka yang diberikan kepada anak hanya secukupnya saja. Nggak usah banyak-banyak.

Kita ambil contoh matematika. Bila anak telah menguasai konsep dengan benar dan telah mampu mengerjakan, katakanlah, 5 (lima) soal dengan benar maka ini sudah cukup. Tidak ada gunanya untuk meminta mengerjakan 10, 20, atau bahkan 30 soal latihan dengan topik yang sama.

PR yang secukupnya ini selain untuk melatih dan menumbuhkan kebiasaan belajar, tanggung jawab akademik, disiplin, juga bisa digunakan untuk semakin mempererat hubungan antara orangtua dan anak.

Saat orangtua, yang peduli dan perhatian dengan anak, membantu anak mengerjakan PR maka terjalin komunikasi batin yang intens dan konstruktif. Hal ini sangat dibutuhkan anak saat tumbuh kembang.

Pembaca, setelah membaca uraian saya, ditambah dengan pengamatan terhadap apa yang dialami anak/murid anda dengan mengerjakan PR yang banyak, saya ingin menutup artikel ini dengan satu pertanyaan pada anda, “Apakah PR benar-benar bermanfaat bagi kemajuan anak kita? Jika anda bisa mengubah sistem pendidikan, kebijakan apa yang akan anda terapkan dalam hal pemberian PR kepada anak/murid?”